Itinerary Lombok (Contoh)

30 Aug

Contoh itinerary ini diperoleh dari milis, kiriman dari jelly162@yahoo.com

Menyiapkan Itinerary Lombok:

Obyek Wisata di Wilayah Lombok Barat

  1. Pantai Senggigi
  2. Pura Batu Bolong
  3. Pantai Malimbu
  4. Hutan Pusuk
  5. Hutan Sesaot
  6. Dusun Tradisional KR. Bayan
  7. Pantai Meninting
  8. Air Terjun Gripak Gn. Sari
  9. Air Terjun Gripak
  10. Pemandian Aik Nyet
  11. Centra Kerajinan Ds. Sesela
  12. Agrowisata Gunung Jae
  13. Taman Lingsar
  14. Taman Wisata Suranadi
  15. Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air

Obyek Wisata di Wilayah Lombok Utara

  1. Taman Nasional Gunung Rinjani
  2. Desa Tradisional Senaru
  3. Air Terjun Toren
  4. Air Terjun Tiu Kelep
  5. Air Terjun Sindang Gile
  6. Air Terjun Tiu Pupus
  7. Air Terjun Sesait
  8. Air Terjun Tirta Gangga
  9. Pantai Tanjung Menangis
  10. Pantai Sempenge
  11. Pantai Kerakas
  12. Pantai Sire
  13. Mesjid Kuno Sesait
  14. Arung Jeram Dusun Tengak Pekatan

Obyek Wisata di Wilayah Lombok Tengah

  1. Sentra Gerabah Baleka
  2. Pantai Cemara Tebel
  3. Pelabuhan Lembar
  4. Gunung Pengsong
  5. Gunung Sasak
  6. Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Sundak dan Gili Kedis
  7. Gili Asahan
  8. Gili Gede
  9. Gua Jepang
  10. Bangko-Bangko, Dam Kedaro
  11. Pantai Mekaki
  12. Pantai Labuan Poh
  13. Pantai Sepi
  14. Pantai Pengatap
  15. Pantai Blongas
  16. Pantai Mawun
  17. Pantai Mawi
  18. Pantai Sorga, Ekas dan Kaliantan
  19. Pantai Kuta, Tanjung A’an dan Pantai Seger
  20. Air Terjun Benang Kelambu

Obyek Wisata di Wilayah Lombok Timur:

  1. Pantai Surga
  2. Pantai Serewe
  3. Tanjung Ringgit, Tanjung Perak dan Tanjung Cina.
  4. Gili Bidara, Gili Kondo, Gili Lampu, Gili Sunut, Gili Sulat dan Gili Lawang
  5. Lien Beach
  6. Pantai Kaliantan dan Tanjung Bloam.

Berdasarkan info yang telah kami kumpulkan maka kami mulai menyusun daftar tujuan wisata di Lombok. Itinerary Lombok tersusun rapi berdasarkan kedekatan lokasi. Saya yang datang terlebih dahulu bertugas segera check in di homestay karena menurut info walaupun sudah booking kadang-kadang ada homestay/penginapan yang menjual kamar ke orang yang datang terlebih dahulu.

Penginapan murah dengan lokasi tidak jauh dari Pasar Seni Senggigi menjadi pilihan, Homestay Sonia. Pemiliknya bernama Ibu Maria, beliau sangat ramah dan memiliki menu sarapan pancake terenak yang pernah saya makan.
Kamarnya sempit dengan kamar mandi hanya dengan tirai/gorden, untuk sholat kami harus ke bagian belakang rumah di sebuah rumah panggung sederhana yang sepertinya multifungsi. Eksotik bukan?
Harga penginapan plus pancake lezat itu hanya Rp. 80.000/malam, kamar yang di isi ber-3 menambah Rp. 20.000/kamar.
Untuk mobil kami memilih menggunakan mobil Pak Eko dengan pertimbangan tidak ada pembatasan waktu (24 jam harga 450 ribu).

Kamis, 21 Otober 2010:
12.30 – 15.30 : Jakarta – Mataram
15.30 – 16.00 : Bandara Ampenan – Homestay Sonia.
Naik taxi hmm… saya lupa tarifnya, sekitar Rp. 35.000 – Rp. 40.000
16.00 – 18.00 : Sholat, menikmati matahari sore di pantai senggigi, naik angkot ke Malimbu, naik taxi ke Mataram Mall
18.00 – 20.00: Jalan-jalan di Mataram Mall.

Satu-satunya mall yang ada di Mataram. Cukup tepat untuk mencari makanan standar (KFC & McD) bahkan NAV juga ada. Di sekitar mall juga banyak tempat makan, yang suka makanan khas Mataram bisa mampir warung Dirgahayu tepat di samping mall, yang suka makanan Jawa Timuran juga banyak warung tenda, Pizza Hut juga ada.

Kalau ada yang mau facial ada LBC di depan mall Mataram. Komplit kan? Sekitar jam 8 saya kembali ke penginapan menunggu rombongan yang lain, naik taxi sendirian juga aman, saya pilih Bluebird tentu saja. Ternyata… penerbangan dari Surabaya delay, akhirnya teman-teman yang dari Jakarta menunggu teman kami dari Surabaya di bandara hingga tengah malam.

00.00 – 01.00: Makan malam seru di warung pecel lele, cukup Rp. 113.000 saja untuk ber-8

Jum’at, 22 Otober 2010:

05.00 – 08.00 : Sholat, mandi, menikmati pagi di pantai Sengigi.
Awalnya kami berencana berangkat ke Pemenang pukul 7 agar dapat menyeberang ke Gili trawangan sepagi mungkin, namun sayang Ibu maria menyiapkan sarapan agak lama. Tidak mau membuang waktu lebih lama pancake tersebut kami bungkus sebagai bekal di jalan agar tidak kesiangan. Lain kali kalo menginap disini minta dibuatkan sarapan lebih pagi.

08.00 – 10.00: Senggigi – Pemenang.
Karena beberapa bagian jalan di Malimbu sedang ada perbaikan sopir angkot yang kami carter memilih rute hutan pusuk. Nilai tambahnya kami dapat sambutan meriah dari monyet-monyet di hutan pusuk, namun jalanan yang berkelok cukup membuat pusing juga karena tempat duduk kami berhadap-hadapan. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam, kemudian dilanjutkan naik cidomo (WAJIB) menuju darmaga dengan tariff Rp. 5.000/orang. Setelah membeli tiket penyeberangan Bangsal – Trawangan seharga Rp. 10.000/orang kami mengisi perut dulu dengan sarapan di warung-warung makan sekitar pelabuhan Bangsal, rasanya… sangat tidak direkomendasikan!
10.00 – 10.30 : Pelabuhan Bangsal – Gili Trawangan.
Setiba di Gili Trawangan kami diminta ke pos jaga untuk di data. Kami ditawari penginapan tidak jauh dari pantai, namanya Permata Bungalow dengan harga Rp 150.000/malam bisa di isi ber-3 tanpa sarapan pagi. Kamar mandinya seksi, seperti di Hotel Lor In Belitung kamar mandi Permata Bungalow juga tanpa atap. Air-nya asin, jadi sebaiknya siapkan air mineral untuk sikat gigi.
Menikmati Kecantikan Gili Air (foto: danang)

10.30 – 11.30 : Ikut berjemur di Gili Trawangan
bedanya… kalo bule-bule mengenakan bikini kami berbusana syar’i hehehe… Menjelang sholat Jum’at kami kembali ke penginapan. Karena kesiangan perahu yang melayani rute gili trawangan – gili meno – gili air sudah tidak ada lagi. Entah kami yang tidak bisa menawar atau memang sudah kepepet kami menyewa perahu dan snorkel seharga Rp. 900.000. Padahal jika menggunakan perahu yang melayani rute gili trawangan – gili meno – gili air biayanya lebih murah, sekitar Rp. 50.000 – Rp. 75.000.
Mencari Javier Bardem di Gili Meno *korban EatPrayLove*

13.30 – 17.00 : Gili Trawangan – Gili Meno – Gili Air.
Gili Meno dan Gili Air jauh lebih sepi dari Gili Trawangan, hanya terlihat beberapa cottage di sini. Jika ingin ber-kontemplasi Gili Meno dan Gili air menjadi tempat yang tepat. Bahkan di akhir cerita Eat, Pray and Love, Elizabeth Gilbert di ajak “Let’s cross over” alias “Attraversiamo” oleh Felippe ke Gili Meno lho.

17.00 – 19.00: Mandi, sholat dan makan malam. Tidak jauh dari penginapan kami terdapat rumah makan lumayan besar. Rasanya biasa saja, cukup untuk mengganjal perut-perut yang kelaparan.

19.00 – 21.00: Menikmati malam di Gili Trawangan.
Mendadak kami menjadi turis asing di negeri sendiri, sepanjang jalan yang kami lewati selain penduduk lokal Trawangan yang berjualan kami hanya bertemu dengan warga negara asing. Bar dan café bertebaran sepanjang jalan, suara music yang berdentum dan keriuhan pengunjungnya sangat tidak cocok untuk wisatawan yang ingin mencari ketenangan. Kami hanya berjalan-jalan tidak berani mampir ke salah satu café-nya, takut tidak sanggup bayar

Sabtu, 23 Oktober 2010:

05.00 – 09.30: Usai sholat subuh, tanpa mandi terlebih dahulu kami segera menuju tempat penyewaan sepeda. Jika malam harinya kami menyusuri jalanan yang penuh bar dan café maka pagi harinya kami berlawanan arah menuju sisi Trawangan yang lebih sepi. Awalnya kami bersepeda cukup mulus namun makin mendekati PLN sub ranting Gili Trawangan jalanan mulai berpasir sehingga cukup berat untuk mengayuh sepeda.
Bersepeda di Gili Trawangan
Saya yang pemalas memilih berhenti di sebuah cottage dengan pantai yang penuh serpihan karang putih lucu. Menikmati pagi yang sepi dengan memandangi pantai dengan airnya yang sangat tenang membuat saya betah di sini, andai saja tiap pagi bisa menikmati hal seperti ini. Adakah yang mau menghibahkan salah satu cottage Gili Trawangan untuk saya tinggali? Mimpi! Rasa lapar mengumpulkan kami kembali menuju Warung Dewi yang menyediakan nasi pecel, nasi rawon, masakan khas Lombok dan aneka minuman. Selesai sarapan seharga 120 ribu (untuk ber-8) kami kembali ke penginapan untuk bersiap check out. Yang terlupakan adalah… kami tidak mencatat nomor telfon pemilik Permata Bungalow!

09.30 – 10.00: Gili Trawangan – Bangsal

10.00 – 12.00: Bangsal – Air Terjun Sendang Gila – Tiu Kelep
Mobil inova yang kami sewa sudah menunggu, sopirnya, Pak Din sangat ramah. Perjalanan menuju Air Terjun Sendang Gila yang terletak di desa Senaru, kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara membutuhkan waktu 2 jam. Pemandangan sepanjang perjalanan beraneka ragam mulai pantai-pantai indah, perbukitan, sawah, sungai hingga orang mandi tanpa sehelai benangpun
Air Terjun Sendang Gila (gile)

12.00 – 13.40: Makan siang, Sholat dan di rayu tourguide.
Begitu pintu mobil dibuka seorang pemuda yang mengaku sebagai tourguide langsung menawarkan jasanya. Selesai makan dan sholat di sebuah restaurant dekat pintu masuk sendang gila kami di minta ke posko mereka, mereka menawarkan jasa tourguide Rp. 75.000. Murah sekali bukan? SALAH!! Karena harga tersebut hitungan per orang. Tawar menawar tidak menemukan titik temu sampai akhirnya kami memilih TIDAK MENGGUNAKAN JASA TOURGUIDE dan membayar Rp. 100.000 entah untuk apa karena selembar tiketpun tidak kami peroleh.

13.40 – 14.00: Perjalanan menuju Air Terjuan Sendang Gila (dibaca Gile)
Jalan menuju air terjun sendang gila merupakan jalan setapak yang sudah di semen, jaraknya tidak jauh dari pintu masuk air terjun, namun kami sempat berhenti di gazebo karena hujan deras yang tiba-tiba turun. Air terjun sendang gila terletak di ketinggian 600 m di atas permukaan laut (dpl) dan memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter

14.00 – 14.30: Menikmati keindahan Air Terjun Sendang Gila

14.30 – 15.00: Perjalanan menuju Air Terjun Tiu Kelep
Perjalanan menuju Tiu Kelep cukup menantang, menaiki tangga terjal, melewati jembatan berlubang dengan salah satu sisinya tanpa pagar, jalanan landai kemudian bertemu sungai dengan bebatuan yang licin dan beberapa arus yang cukup deras. Salah seorang teman sempat terpeleset. Yang harus selalu diingat ketika pergi berombongan tanpa signal telfon adalah TIDAK BOLEH TERPISAH. Kami terpisah 2 rombongan karena saya menunggu teman yang terpelesat dan tasnya tercebur ke sungai, ber-3 kami jalan sangat berhati-hati mencari arus yang tidak terlalu deras sementara ke-5 teman kami yang lain sudah jauh di depan. Beruntung kami bertemu rombongan lain yang kembali dari Tiu Kelep, mereka menunjukkan jalan untuk kembali menyeberang sungai menuju jalan setapak, hasilnya…. Walaupun sudah tertinggal kami dapat mencapai Tiu Kelep bersamaan dengan rombongan depan yang terus menyusuri sungai

Air Terjun Tiu Kelep
15.00 – 16.30: Menikmati Air Terjun Tiu Kelep
Air terjun Tiu Kelep memiliki ketinggian 40 meter dan bertingkat, jika dalam kondisi hujan deras sebaiknya dibatalkan saja perjalanan ke Tiu Kelep mengingat derasnya arus disini. Airnya cukup dingin namun cukup menggoda untuk menikmati shower alami, bagi yang ingin berbasah-basahan sebaiknya siapkan baju ganti. Kurang lebih 30 menit saja kami di Tiu Kelep selanjutnya kami kembali ke restaurant tempat parker mobil untuk ganti baju dan bersiap meninggalkan Desa Senaru.

16.30 – 19.00: Kembali ke Senggigi
Setelah memilih beberapa penginapan di sepanjang jalan raya senggigi akhirnya kami memilih Hotel Ray, dengan tarif Rp. 350.000 untuk 3 kamar sudah dapat sarapan pagi. Murah kan? 1 Kamar bisa di isi ber-3 dengan fasilitas kamar mandi dan kipas angin. Sudah cukup untuk kami merebahkan badan dan meluruskan kaki yang pegal-pegal.

19.00 – 21.00: Makan malam mahal di Yessy Caffe
Letaknya tidak jauh dari homestay Sonia tempat kami menginap sebelumnya, menu-menu yang ditawarkan juga beragam. Tentu saja kami harus memesan makanan khas Lombok, plecing kangkung dan ayam taliwang. Untuk makan ber-9 (dengan sopir) kami harus merogoh kantong lebih dalam, Rp. 548.000.

Minggu, 24 Oktober 2010

05.00 – 09.00: Sholat, jalan-jalan sekitar senggigi, sarapan, checkout.
Sebenarnya kami merencanakan untuk checkout sepagi mungkin karena tujuan kami hari ini adalah Gili Nanggu yang letaknya cukup jauh, namun seperti biasa seorang teman kami sangat santai (jitak samhoed) sehingga terpaksa molor.

09.00 – 10.00: perjalanan senggigi – gili nanggu.
Gili Nanggu terletak di Sekotong, kabupaten Lombok Barat, kurang lebih 50 Km di selatan kota Mataram. Bagi wisawatan dari Bali bisa berlabuh Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Taun. Dari kedua pelabuhan itu, waktu tempuhnya dengan menggunakan speed boat atau perahu motor milik nelayan, sekitar setengah jam.

10.00 – 15.00: keliling gili nanggu – gili sundak – gili kendis
Perahu u’ keliling Gili Nanggu – Sundak – Kedis
Di Sekotong terdapat banyak Gili seperti Gili Genting, Gili Lontar, Gili Gede, Gili Kedis, Gili Sudak, Gili Nanggu, Gili Tangkong, Gili Berairan, Gili Amben, Gili Asahan, Gili Layar, Gili Renggit, Gili Goleng, Gili Anyaran, dan Gili Poh. Namun sebagian besar tanpa penghuni, hanya Gili Layar, Gili Asahan, dan Gili Gede saja yang berpenghuni.
Kami menyewa perahu seharga Rp. 350.000 dan snorkel seharga Rp. 250.000. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman karena tidak ada pedagang asongan di gili-gili.

•Gili Nanggu: Terdapat cottage yang dimiliki orang lokal bernama Eddy Dharma, sayang kami tidak memiliki nomor telepon-nya. Nomor telepon yang ada terhubung ke travel agent Lombok. Tarif kamarnya ada yang Rp 100 ribu, Rp 200 ribu dan Rp 250 ribu. Harga ini sangat tergantung dari fasilitas yang disediakan. Jika mau ber-AC, harganya Rp 250 ribu. Sedangkan yang Rp 100 ribu, airnya payau dan fasilitas seadanya. Harga ini belum termasuk makan, minum dan trasportasi. Kalaupun belum booking sepertinya bisa langsung pesan kamar di sini karena banyak kamar dan wisatawan di gili nanggu tidak seramai gili trawangan. Kami menikmati gili nanggu dengan snorkeling, ikan-ikan dan karang cantik sudah terhampar tidak jauh dair pantai.

  • Gili Sundak: Main pasir, sunbathing, snorkeling atau hanya sekedar bermain air semua bisa dilakukan dengan leluasa karena lokasinya yang sepi. Perbukitan hijau yang tersaji didepan mata dan pepohonan yang rindang di sekeliling gili sundak juga bikin betah.
  • Gili Kedis: Gili kedis sangat imut, kecil sekali, luasnya hanya sekitar lapangan bulutangkis, dikelilingi jalan kaki hanya butuh waktu 3 menit. Pemandangan di gili kendis sangat indah, kita bisa memandang Gunung Agung Bali, perbukitan, lautan yang biru jernih. Tidak seperti Gundukan Pasir Kosong di Belitung dan Karimunjawa, Gili kedis yang berpasir putih halus ditumbuhi sedikit rumput dan semak dan di beberapa bagian terdapat batuan yang terhampar “ganteng” (sekali-kali make ganteng #eaaa) pas sekali untuk ber-pose Sebagian dari kami memilih untuk foto-foto, tiduran dan main pasir, ada juga yang snorkeling. Gili Kedis menjadi gili terfavorit saya
    Gili terfavorit saya: Gili Kedis Lombok

15.00 – 16.00: Sholat dan makan tidak jauh dari tempat parkir mobil. Masjidnya besar, bisa numpang mandi juga. Kami makan di warung jawa dengan sambal yang ueeenaaaak sekali.

16.00 – 18.30: perjalanan dari sekotong – pantai kuta Lombok.
Perjalanan kurang lebih 2 jam, selanjutnya kembali door to door mencari penginapan. Kami dapat Ketapang Homestay & Café yang terletak tepat di tepi jalan sebelum belok kiri ke pantai kuta Lombok. Hanya tersedia 2 kamar, Rp. 400.000 untuk 2 malam.

18.30 – larut malam: mandi, sholat,makan malam, main monopoli, ngobrol asyik lanjut istirahat.

Senin, 25 Oktober 2010:

Pantai Kuta Lombok (dari jalan menuju mawun)
05.00 – 08.00: Rencananya usai sholat subuh mau langsung nikmatin sunrise di pantai kuta Lombok, tetapi efek begadang membuat kami bermalas-malasan. Jam 7, 4 buah motor telah tersedia dengan sewa Rp. 50.000/motor untuk 24 jam tanpa bensin. Kami membeli bensin di depan homestay seharga Rp. 60.000 untuk 4 motor. Tujuan kami hari ini adalah pantai mawun dan mawi.

08.00 – 08.30: Perjalanan Pantai Kuta – Pantai Mawun. Beberapa kali berhenti karena pemandangan indah sepanjang jalan yang sangat sayang kalo dilewatkan tanpa berpose
cantiknya pantai mawun lombok

08.30 – 10.00: Menikmati pantai mawun.
Pantai mawun merupakan pantai berpasir coklat kasar dengan bukit di kanan kiri pantai yang membentang hingga tengah laut sehingga ketika berdiri di tengah pantai tampak di depan seperti ada pintu gerbang tanpa pagar. Mendadak kami menjadi pemilik pantai mawun karena tidak ada wisatawan lainnya. Semua yang ada di pantai ini seolah sebuah studio foto alami yang akan terlihat cantik dari berbagai sudut, pintu gerbang pantai dikejauahan, kayu besar yang teronggok begitu saja di pantai, latar belakang bukit.

2 Responses to “Itinerary Lombok (Contoh)”

  1. http://nguontien.com/hoat-dong/vay-tien-mua-oto.html April 3, 2013 at 08:29 #
  2. Lidya February 27, 2014 at 14:26 #

    boleh minta contact person Bapak Eko.. nanti diemail saja ke saya miss_narsiis@yahoo.com

    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: